Kisah seorang anak perempuan yang mengeluh kepada ayahnya, bahwa dia tidak sanggup memikul beban dan kesulitan hidup yang dialaminya. Anak perempuan itu mengatakan, bahwa dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi segala kesulitan itu. Dia menyerah dan hanya bisa pasrah saja. Dia merasa letih untuk berjuang dan bertahan hidup. Sepertinya, setiap kali satu masalah dituntaskan, pasti ada saja masalah baru yang timbul.

Profesi ayahnya adalah seorang juru masak.

Setelah mendengar keluhan putrinya, seketika itu dia membawanya ke dapur. Kemudian sang ayah menuangkan air ke dalam tiga buah panci dan memanaskannya. Setelah air tersebut mendidih, dia memasukkan wortel ke dalam panci pertama, dan telur ke dalam panci kedua, kemudian menaruh bubuk kopi ke dalam panci yang terakhir. Dia membiarkan air itu terus mendidih, lalu menunggu tanpa keluar sepatah kata pun dari mulutnya. Putrinya pun ikut menunggu, padahal sebenarnya sudah tidak sabar dan dalam hati bertanya-tanya, apa sebenarnya yang sedang dikerjakan ayahnya. Sebab apa yang dilakukan sang ayah cukup membuatnya bingung dan menimbulkan pertanyaan besar baginya.

Setelah beberapa menit, sang ayah mematikan api. Dia lalu mengangkat wortel dan diletakkan di mangkuk. Selanjutnya, giliran telur yang diangkat dan diletakkan di mangkuk lain. Terakhir, dia menuangkan kopi di mangkuk ketiga. Setelah selesai, sang ayah melihat putrinya dan bertanya, “Anakku sayang, apa yang kamu lihat sekarang?” “Wortel, telur, dan kopi,” jawab putrinya.

Ayah anak itu meminta putrinya untuk benar-benar memperhatikan wortel dan mencicipi rasanya. Anak itu pun melaksanakan perintah ayahnya, ternyata wortel sudah cukup matang dan rasanya enak sekali. Setelah itu sang ayah memintanya untuk mengupas kulit telur. Ternyata telur itu masih saja keras. Dia lalu meminta anak perempuannya itu untuk mencicipi aroma nikmat kopi. Keharumannya membuat anak perempuannya tersenyum. Setelah itu, anak itu bertanya, “Tapi, apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menjawab, “Putriku Wortel, telur dan kopi, semuanya menghadapi masalah yang sama. Yaitu air panas yang mendidih. Akan tetapi, masing-masing mengeluarkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus dalam air mendidih itu cukup kuat dan keras. tetapi setelah dihadapkan dengan air panas dan mendidih, ia menjadi lemah dan lunak. Sedangkan kulit luar telur sebelum direbus begitu kuat melindungi bagian dalamnya, tetapi setelah direbus, isi dalamnya menjadi keras, dan kulit luar telur menjadi begitu rapuh dan mudah retak. Sedangkan perubahan yang terjadi pada kopi cukup unik. Tidak seperti wortel dan telur. Setelah diletakkan di dalam rebusan air, bubuk kopi tersebut bisa mengubah air. Lalu bagaimana dengan kamu? Apakah kamu seperti wortel yang kelihatan keras, tetapi ketika menghadapi masalah dan kesulitan berubah menjadi begitu lembek dan hilang kekuatannya. Atau ingin seperi telur, isinya yang ada di dalam bisa digoncang, tetapi ketika dihadapkan dengan penderitaan dan kesusahan, ia menjadi kuat dan tegar? Kalau dilihat secara zahir, kamu seperti layaknya telur, yang dalamnya berubah setelah menghadapi masalah. Hati kamu menjadi pahit dan keras. Atau kamu adalah bubuk kopi yang bisa mengubah air panas mendidih sebagai sumber derita dan kesulitan yang menjadikan air itu terasa begitu harum aromanya dan nikmat? Jika dirimu seperti bubuk kopi, maka ketika keadaanmu menjadi buruk dan susah, kamu dapat menjadikan sekelilingmu menjadi lebih baik. Putriku, pikirkanlah, bagaimana kamu harus menghadapi semua kesulitan itu!”

(Dikutip dari buku BELAJAR DARI AYAT2 ALLAH YANG TERSIRAT; Agar Lebih Tegar dan Bijaksana Menyelesaikan Setiap Masalah, hal, 3 – 5)